Kamis, 13 Desember 2012

Hujan

Hujan. Malang sekarang lagi musim hujan niih. Tiap siang hujan, sore hujan, malam-pun hujan. Mana kalau hujan lama pula, udah gitu dinginya menusuk sampai ke tulang. But I don't know, I feel that this weather represents my feeling. Yup! Entahlah. Curhat bentar yaa, "so the fault is not in your tongue but my stupidity which believed the words coming out from your tongue". Kecewa, hati menangis. Sampai-sampai semesta juga ikut menangis.
Setelah hujan, kan terang bakal terbit tuuh. Nah, kalau saya, waktu hati lagi hujan deres-deresnya, malah harus tetap senyum diluar, jadi gak perlu nunggu hujan reda. I'm instantly in love with my new attitude ini. Karena dulu, kalau udah bad mood, everything sucked and was a wreck. Keliatan banget deeh pokoknya. Mungkin karena mau 20 tahun yaa. Jadi yang namanya kegalauan itu ga perlu terlalu ditunjukin di luar.
Ngomong-ngomong soal hujan, entah kenapa hujan itu selalu sukses membuat saya jatuh cinta. Di dalam hujan (meskipun ada badai, angin, petir, guntur dan segala macamnya) selalu punya makna tersendiri buat saya. Yaa, walaupun hujan hanya sekedar hujan. Rain is a thing which I believe can heal my disappointment. Gak bakal bisa marah deeh sama hujan, walaupun harus pulang basah kuyup, atau harus nunggu berjam-jam buat neduh. Karena hujan has something and I love that.
Hujan juga selalu membawa saya pada kenangan tentang seseorang. Dia yang dulu rela hujan-hujanan cuma buat nganterin makan. ahaha I'm shedding tears niih jadinya. Well, pokoknya hujan itu punya kenangan di masa lalu saya, dan pasti akan punya sesuatu untuk masa depan saya.

JUDUL


Tetesan hujan jatuh membasahi permukaan bumi
Semesta menangis, mengamuk, 
Seolah ingin menghapus semua kepercayaan yang telah ternoda
Dalam dingin ia bertapa
Berusaha menyusutkan dirinya dalam balutan angin 

Jembatan telah terputus
Terputus oleh kencangnya angin
Mematahkan pondasinya
Memutuskan talinya
dan menghancurkan setiap jalan pertapakan yang pernah disinggahi

Seketika rasa rindu telah hilang
Namun datang kembali
Tidak menentu
Rasa benci-pun mengiringi perjalanan
Namun rasa sayang tak pernah surut sedikitpun

Air hujan
Membanjiri seluruh lapisan dunia
Membawa jutaan syaraf tubuh meraung untuk berhenti bekerja
Tidak ada permohonan
Apalagi bantuan
Yang ada hanya sepotong kain
Yang sampai saat ini pun tak mampu 
menyerap air hujan itu